homeaboutcreatorcastproductionticketpress &reviewgallery
 
 
         
      contact us  
      facebook  
      twitter  
   

Java War, 1825-0000, sebuah tafsir ulang Opera Diponegoro, berkisah tentang sisi lain kepemimpinan Pangeran Diponegoro dalam membangkitkan rakyat Jawa untuk melawan penjajah Belanda. Diponegoro, lahir sebagai anak bangsawan berpendidikan maju, berilmu tajam, dan bernurani peka, memilih tinggal bersama neneknya di sebuah desa kecil di tengah-tengah rakyatnya. Ketika kesewenangan Belanda semakin buas, dan panggilan untuk memimpin rakyatnya tak dapat dihindari, Diponegoro menggerakkan gelombang perlawanan luar biasa dari seluruh Jawa, bersama kaum muda yang darahnya mendidih menghendaki keadilan. Dalam opera ini, terungkap figur Diponegoro sebagai pemimpin besar yang gejolak batinnya mengisyaratkan bahwa pertempuran terbaik terhadap penindasan apa pun hanya bisa dilakukan dengan perlawanan kultural.

Sebuah karya legendaris Raden Saleh, berjudul “Penangkapan Diponegoro”, akan menjadi latar pertunjukan. Potret sang pelukis, yang ia tuangkan sendiri menjadi tiga sosok dalam lukisan itu, menjadi pengingat bahwa sejarah tak pernah berhenti bergulir. Tiga sosok itu seolah menatap masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Bagi Sardono W Kusumo, eksplorasi seninya seolah tak pernah tuntas dalam memanggungkan Opera Diponegoro. Java War, 1825, 0000 mementaskan koreografi, pesan, penari, musik, dan skenografi yang berbeda dengan pertunjukan-pertunjukan Opera Diponegoro sebelumnya. Kali ini, digelar bertepatan dengan hari kelahiran Pangeran Diponegoro, 11 November 2011, akan didukung oleh Iwan Fals yang mempersembahkan interpretasi musikalnya tentang Babad Diponegoro. Selain itu, dilibatkan juga sejarawan Peter Carey, penulis The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Order in Java 1785-1855 (2008), dalam mempresentasikan lukisan Raden Saleh.

 

   
 
 

home | about | creator | cast | production | ticket | press & review | gallery
© 2011 Opera Diponegoro